Selasa, 24 November 2009

Tuhan Sembilan Senti


Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Selasa, 10 November 2009

Terima kasih Ya Alloh!


Seseorang bercerita, aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga.

Memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarku berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata,"


Ini adalah Seksi Penerimaan.
Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima".

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.

Kemudian,....
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata,
"Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman.

Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses
dan dikirim ke manusia-manusia yang masih
hidup yang memintanya".


Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.
Ada banyak malaikat
yang bekerja begitu keras karena ada begitu
banyaknya permohonan yang
dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil.


Yang sangat mengejutkan aku,

hanya ada satu malaikat yang duduk
disana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan.
Dia tampak malu.

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan
disini?", tanyaku.

Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "
Setelah manusia menerima rahmat
yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".



"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali", jawab Malaikat.

"Cukup berkata,
'ALHAMDULILLAHI RABBIL AALAMIIN,
Terima kasih, Tuhan' ".



"Lalu, rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.

Malaikat-ku menjawab,

"Jika engkau mempunyai makanan di lemari es,
Pakaian yang menutup tubuhmu,
atap di atas kepalamu dan tempat untuk tidur,

Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu,
dan uang-uang receh,

maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu,
engkau adalah bagian dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga....
Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan ...
engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat ....Maka,engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".

"Jika,........
engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada
ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan,atau kematian ...

M a k a,....engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang didunia.

"Jika,....orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan ...
Maka,.....engkau termasuk orang yang sangat jarang.

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,
maka,.....
engkau bukanlah seperti orang kebanyakan,
engkau unik dibandingkan emua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika,...engkau dapat membaca pesan ini,
maka engkau menerima rahmat ganda
yaitu
bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa, engkau lebih dirahmati
daripada lebih dari 2 juta orang di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu.

Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua
teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa
dirahmatiNya kita semua.

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa,
'Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak
nikmat kepadamu' ".
(QS:Ibrahim (14) :7 )

Selasa, 06 Oktober 2009

A Y A H


SOSOK SEORANG AYAH ITU MENGAGUMKAN.

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya,
menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya....

Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai....
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil,
tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar....
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret....

Ayah selalu tepat janji!
Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan....

Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu...


Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka... karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka...

Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil(mengandungmu), tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi....

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung
di atas air setelah ia melepaskanya....

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya... Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi....

Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis....jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala...

Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa "melihat" para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya...

Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.... Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup...

Ayah benar-benar senang membantu seseorang... tapi ia sukar meminta bantuan...

Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya....

Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah...
Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu...

Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~

Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill....*_~

Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat....

Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam...walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati...

Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut....

Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat...

Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman... Siapa tahu kamu membutuhkannya....

Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya....

Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah...

Ayah itu murah hati.....Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.... .

Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ....

Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka.....

Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara..

Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp-mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. ...

Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

Ayah akan berkata ,, “tanyakan saja pada ibumu" Ketika ia ingin berkata ,,”tidak"

Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin...

Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi....

Ayah mengatakan ,, “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya....

Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya....

Ayah mengira seratus adalah tip..

Seribu adalah uang saku..

Gaji pertamamu terlalu besar untuknya...

Ayah tidak suka meneteskan air mata .....

ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya,dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya...

Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster... tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan....

Kalau tidak salah ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: “,,jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah kuberi padamu"

Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :"jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN....

Sayangilah Ayahmu juga Ibumu..

Selasa, 04 November 2008

Apakah Kita Sudah Bersyukur ?

If you think you have huge tension, look at them...


If you think your job is tough, how about him


If you think your salary is low, how about her?


If you think you don't have many friends, ask yourself if you have one sincere friend...as. .. this Dog..



You think, study is a burden, how about her?


When you feel like giving up, think of this man..


If you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?


If you complain about your transport system, how about them?


If your society is unfair to you, how about her?


Always 'be positive'...... No Matter What!!!!


================================================== ============================================

UPDATE

Di saat kita kecil dimanja dan di sayang,
manjakah mereka?



kita sering mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal


Masihkah Kita berfikir untuk membentak ibu kita?

bersyukurlah dengan apa yang kita dapat saat ini

Senin, 20 Oktober 2008

SANG MAESTRO



disuatu acara lelang ada sebuah piano tua dilelang. sebuah piano tua
berdebu dan kelihatan sekali tak terawat disodorkan didepan para
hadirin peserta lelang. seorang petugas membuka penawaran Rp
10.000.000. tak seorang pun bergeming melakukan penawaran. petugas
lelang pun menurunkan nominal menjadi Rp 9.000.000. masih sama dengan
sebelumnya, tak seorang pun berminat untuk melakukan penawaran. Rp
8.000.000 turun lagi Rp 7.000.000, hingga ditawarkan Rp 1.000.000 pun
tak ada yg minat.

tiba2 dari kerumunan peserta lelang seorang
kakek2 mendekati piano. tanpa sepatah kata pun sang kakek beberapa kali
mengibaskan sapu tangan ke piano hingga beterbangan debu2 yg menempel.
dg perlahan si kakek membuka tutup piano dan mengambil posisi duduk.
sejurus kemudian jari jemari kakek tua sudah menari nari di atas piano
diiringi sebuah lagu yg keluar dari suara merdu kakek.

perasaan
semua pengunjung terbawa alunan lagu yg dinyanyikan, begitu menyentuh,
begitu merdu, dan begitu indah membuat hadirin menjadi takjub. akhirnya
satu lagu berakhir diiringi dg tepuk tangan yg sangat meriah dari
seluruh hadirin.

Sejurus kemudian, si kakek bergaya bak petugas
lelang membuka penawaran atas piano tsb dg harga Rp 50 juta. para
hadirin berebut menawar... hingga apa yg terjadi? yup, piano tua itu
terjual dg harga tembus angka Rp 2 milyar.
*****

menurut
hemat saya begitulah kondisi anak-anak kita, siswa-siswa kita,
murid-murid kita, mahasiswa kita. mereka akan tetap menjadi seperti
'piano tua' sebelum tersentuh oleh tangan si kakek. tidak ada yg sudi
menawar walau ditawarkan dg harga yg sangat rendah. dan mereka akan
menjadi sangat bernilai ketika berada di tangan si kakek, yg telah
berhasil merubah performa mereka.

sekarang pertanyaannya, siapakah si kakek itu?
si kakek itu tidak lain adalah sang maestro dunia, dan itu adalah KITA!

what? KITA? KITA siapa??!!!
- kita para orang tua kandung mereka
- kita sang ibunda tercinta yg dg belaian kasih sayangnya memberi pendidikan terbaik buat si buah hati
- kita sang ayah dg kewibawaannya memberi teladan yg akan jd panutan hidup anak2 kita
-
kita para kyai, ustadz/ah guru ngajinya .... dg pengajarannya tanpa
pamrih telah menunjukkan kepada kita baik buruk dunia tuk bekal setelah
mati
- para bapak/ibu guru yg dengan tulus mendidik anak2 kita dg
setiap malamnya bermunajat mendoakan untuk keberhasilan anak didiknya.

lalu, siapa lagi...?
saya
kira.... anda dan kita semua yg akan menjadi penerus jejak si kakek
tadi, kitalah sang maestro dunia itu... yg akan menjadikan mereka
anak-anak kita, anak-anak didik kita, para generasi muda akan menjadi
sangat bernilai tinggi yg akan memberi bobot dunia dengan kalimat
hak-NYA.

Kamis, 16 Oktober 2008

SENYUMLAH...


Al Hadist:
“Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma’ruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya adalah sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat adalah sedekah.” (Hadis Riwayat At Tirmizi dan Abu Dzar)

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana. Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.

Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.

Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' di tempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. . Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka...

Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.

Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."

Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."

Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. . Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak2ku!"

Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.

Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."

Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya.

Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!

Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini di tangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!

Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.

Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri

Senin, 21 Juli 2008

62,7 Persen Siswi SMP Tak Perawan

Sebuah fenomena yang mencenggangkan tentang kisah para remaja di Jakarta, apakah ada yang salah dengan remaja ini atau mungkin dengan pola asuh orang tuanya mari kita simak sebuah berita dari sebuah Harian Warta Kota tanggal 20 Juli 2008 :
Dibanding tahun 2007, jumlah kasus pelanggaran atas hak anak di Indonesia dari Januari sampai Juni 2008 menunjukan peningkatan luar biasa dan belum ada efek jera.
Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan itu, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mendesak pemerintah mencanangkan gerakan nasional perlindungan anak dari kekerasan.
”Pada Hari Anak 23 Juli nanti, kami juga mendorong pemerintah membentuk Kementrian Anak. Sebab, selama ini tidak ada instansi pemerintah yang secara khusus terintegrasi menangani kasus-kasus kekerasan terhadap anak,” ucap Seto Mulyadi, Ketua Umum Komnas PA, di kantornya di Jalan TB Simatupang No 33, Pasarrebo, Jakarta Timur, Jumat (18/7) siang.
Hasil survei yang dihimpun Komnas PA bersama 33 lembaga perlindungan anak provinsi dan kabupaten/kota pada periode Januari-Juni 2008 menunjukkan bahwa 93,7 persen remaja SMP dan SMA pernah ciuman, genital stimulation, sampai oral seks. Sebanyak 62,7 persen remaja SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan, 21,2 persen remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA mengaku pernah menonton film porno.
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak juga meningkat sangat drastis. Tahun 2007 tercatat ada 37 juta kasus pelanggaran atas hak anak, sedangkan di semester I tahun 2008 ini sudah ada 48 juta kasus kekerasan.
Pelanggaran itu antara lain anak korban kekerasan fisik dan psikis, korban kekerasan seksual, korban penculikan dan diperdagangkan, korban HIV/AIDS, korban penculikan, korban peredaran narkoba, korban iklan rokok, tidak mendapatkan akta kelahiran.
Masing-masing kasus pelanggaran hak anak itu rata-rata naik 48 persen. Misalnya, korban kekerasan fisik dan psikis tahun 2007 hanya 12.000 anak, sedangkan tahun 2008 (semester I) mencapai 21.872 anak. Jumlah korban kekerasan seksual ditahun 2007 hanya 6.250 anak, pertengahan 2008 mencapai 12.726 anak.
Arist Merdeka Sirait, Sekretaris Jenderal Komnas PA, menambahkan, jumlah kasus pelanggaran terhadap anak bukannya menurun melainkan meningkat. ”Artinya apa? Tindakan yang kami lakukan tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku,” tandasnya.
menurut hemat saya ada beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti baik oleh Pemerintah maupun para orang tua :
- Seorang Sosiolog dari Amerika Serikat pernah menyatakan bahwa Pornografi di dunia bagaikan gelombang tsunami setinggi 30 Meter yang ditahan dengan kedua belah tangan artinya mengahadapi pornografi bukanlah hal yang mudah membutuhkan urun tangan semua pihak dari keluarga sebagai strata sosial yang paling kecil sampai negara sebagai strata tertinggi.
- Tanamkan agama sejak dini
- tanamkam etika moral dari perilaku para orangtua kepada anak, disini orangtua menjadi panutan hendaknya menjadi contoh bagi anaknya
- Pola asuh yang demokratis dimana orangtua menjadi curahan hati para anak sehingga anak tidak mencari oranglain yang dikhawatirkan salah dalam mencurahkan isi hatinya.
- berikan ruang publik seluas-luasnya tentunya yang representatif, aman dan nyaman serta murah bahkan gratis agar semua warga masyarakat dapat menggunakan sehingga warga masyarakat dapat berkreatifitas dan berekreasi dengan keluarganya.
- memberikan sarana bagi remaja untuk mengungkapkan kreativitas dan inovasinya melalui berbagai kompetisi yang positif.
- wujudkan 20 % APBN untuk dana pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dimana sekolah merupakan ajang pendidikan yang berkualitas sehingga dikemudian hari terciptalah generasi muda yang berkualitas.

Kamis, 26 Juni 2008

Mengais Harapan dari Tumpukkan Sampah

ming-ming sedang mengais sampah Ming Ming Sari Nuryanti (Mahasiswi Universitas Pamulang) Menjadi Pemulung untuk membiayai kuliah dan melanjutkan hidupnya (REALITA edisi 17, 28 April – 11 Mei 2008)
Ming Ming Sari Nuryanti, Pangilannya Muna. Ia lahir di Jakarta, 28 April 1980 sebagai putri pertama dari tujuh bersaudara pasangan Syaepudin (45) dan pujiyati (42). Syaepudin, ayahnya, adalah seorang karyawan di sebuah tempat hiburan di daerah ancol, Jakarta Utara. Setiap hari ia mengumpulkan bola bowling . Sementara ibunya Pujiyati adalah seorang ibu rumah tangga sederhana. Lisa, adiknya yang pertama, duduk dibangku kelas 3 SMU Negeri I Rumpin. Melati, adiknya yang kedua, duduk dibangku kelas 2 di SMU yang sama. Kenny, adiknya yang ketiga, duduk dibangku kelas 6 SD Sukajaya. Sementara tiga adiknya yang lain juga masih sekolah disekolah yang sama. Romadon di kelas 5, Rohani di kelas 4 dan Mia di kelas 1.
Pada tahun 1994, dengan ekonomi yang pas-pasan Muna bersama keluarganya mengotrak rumah sangat sederhana di daerah Kosambi, Cengkareng. Orang tua muna menggeluti usaha rempeyek untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang memang hasilnya tidak menjanjikan. Disela kehidupan yang cukup prihatin, Muna, yang pada waktu itu masih berusia 4 tahun menunjukan potensi dirinya yang berbeda dengan anak-anak lainnya. Dalam usia yang sedini ini, ia memaksa orang tuanya untuk memohon kepada kepala sekolah SDN 02 Kosambi agar menerimanya sebagai murid kelas 1. Hasilnya menggembirakan, ia tidak mengalami masalah dan bahkan dapat naik ke kelas 2 dengan hasil yang memuaskan.

keluarga ming-ming Saat Muna beranjak kelas dua, yaitu tahun 1996 Muna bersama keluarga hijrah ke daerah Bogor, Rumpin. keluarga mereka membuka usaha warung makanan dengan modal yang pas-pasan. Setahun berjalan, usaha itu bangkrut. Hingga untuk bisa bertahan hidup mereka hanya mengkonsumsi bubur atau singkong. Hal itu berlanjut hingga lima tahun.
Suatu hari, ada seorang teman ayah Muna yang memberitahu bahwa gelas dan botol bekas air mineral dapat dijadikan uang . Saat itu juga serentak seluruh keluarga mengumpulkan gelas dan botol bekas air mineral. Hampir setiap hari keluarga mereka berbondong-bondong keluar sambil membawa karung dan terkadang pulang hingga jam tiga pagi. Gelas bekas yang dikumpulkannya ini dihargai delapan ribu rupiah untuk setiap kilonya. Dalam sehari Muna dapat mengumpulkan sebanyak satu karung gelas plastik bekas atau seberat satu kilo gram.
Dari usaha yang baru ini membawa sedikit angin segar bagi keluarga Muna, terlebih bagi dirinya sendiri yang memang sangat bersemangat untuk menempuh pendidikan setinggi tingginya. Dalam keadaan yang sulit sekalipun prestasi belajarnya cukup menggembirakan. Semenjak SD hingga SMU Muna selalu mendapat peringkat tiga besar. Sebelum meninggalkan bangku SMU ia pernah mendapat juara 2 lomba puisi dan ia pun masuk kedalam sepuluh besar lomba membawakan berita pada peringatan hari bahasa pada waktu itu. Pada bangku kuliah pun ia masuk dalam peringkat sepuluh besar pada universitas Pamulang jurusan akuntansi. Potensi inilah yang membakar semangatnya dan memperoleh dukungan keluarga untuk terus belajar.
Tahun ajaran 2007-2008 masih dalam keadaan cukup prihatin Muna memberanikan diri mencicipi bangku kuliah. Tekadnya bulat untuk memilih jurusan akuntansi yang dalam benaknya dapat memudahkan mencapai cita-citanya untuk dapat bekerja pada Bank Indonesia. Dengan biaya kuliah Rp. 900.000 per semester dapat dicicilnya setiap bulan sebesar Rp. 150.000. Jadi, apabila ia ingin kuliah maka ia pun harus bekerja keras siang malam.
Semangat dalam belajar dan bersabar dalam meniti jalan kehidupannya membuat muna dapat dikatakan memiliki suatu yang lebih diantara kawan sebayanya. Meskipun terkadang hanya makan sekali dalam sehari tidak membuatnya kehilangan energi dalam menuntut ilmu. Muna yang memang dikenal juga anak yang pandai bergaul dan periang ini bergabung bersama kawan-kawannya di UKM MUSLIM. . Keprihatinan yang dialami keluarga Muna baru diketahui ketika kawan-kawannya berkunjung ke rumahnya. Semenjak itu, ia semakin mendapat perhatian dari pengurus UKM MUSLIM dan kawan-kawannya dengan memberinya bantuan yang memang jumlahnya belum cukup signifikan.
Ust. Harist, salah seorang Pembina MUSLIM merekomendasikan Muna untuk mendapat bantuan beasiswa melalui DPU DT. Alhamdulillah, setelah mengikuti seleksi akhirnya Muna lolos menjadi anggota program BEA MAHAKARYA DPU DT. Dalam program BEA MAHAKARYA ini selain mendapat bantuan finansial ia juga memperoleh serangkaian pendidikan dan pelatihan yang dapat menjadi bekal bagi dirinya kedepan. Muna terlihat semakin optimis mengejar cita-citanya. Selain itu pula atas usaha dan dukungan kawan-kawannya ia dapat diliput dibeberapa media cetak dan elektronik yang mudah mudahan dapat dijadikan pintu keluar bagi keprihatinan yang ia alami sekeluarga selama ini.

diposting dari http://www.dtjakarta.or.id

Selasa, 17 Juni 2008

Perusahaan Taksi VS Kejaksaan Agung

Ridwan Hardiawan S.PSi

Pagi ini ketika saya sedang sarapan di warung bawah secara tidak sengaja saya makan bareng dengan seorang pengemudi taksi dari salah satu perusahaan taksi terkenal di Jakarta. saya perhatikan dia begitu rapi dengan wajah sumringah saya coba untuk ngobrol-ngobrol dengan pengemudi tersebut.

Dia bercerita banyak tentang pekerjaannya sekarang, bahwa dia pernah ada penumpang yang tertinggal barangnya berupa handphone di jok belakang, sebut saja namanya Pak Amin. Dia begitu kaget dan langsung melaporkan ke Perusahaan, Pak Amin berkata dalam hati, "wah bagus sekali ini handphone boleh juga nih, tapi hati kecil saya berkata, bagaimana mungkin telepon ini saya ambil terus penumpang tahu identitas saya dan melaporkan kepada perusahaan nanti saya dipecat dan mana tega saya ngasih makan anak istri saya dengan uang haram ".
"kalau di perusahaan saya sistemnya sudah bagus pak, semuanya bisa ketahuan kalo ada pengemudi yang macam-macam jadi kita tidak berani, misalnya ada orang yang punya kelakuan yang engga bener diluar tapi kalau sudah kerja di perusahaan saya pasti ngga' berani macam-macam soalnya sistemnya kuat banget pak" kata pak Amin seraya melahap sarapan paginya.

saya jadi teringat akan kasus kejaksaan agung yang melibatkan para JAM nya berkolusi dengan terpidana kasus BLBI melalui calonya artalyta alias ayin yang berhasil disadap oleh KPK.
yang saya heran mereka adalah para "Aparat Penegak Hukum" yang Notabene adalah ujung tombak penegakan hukum dinegara Indonesia tercinta ini.
Saya jadi berfikir bagaimana mungkin seorang penegak hukum tidak memiliki hati nurani yang membiarkan seorang pengemplang dana BLBI yang jelas-jelas merugikan negara triliunan rupiah hendak di SP3 alias dibebaskan dari segala tuntutan, dimana hati nuraninya dan bagaimana sistem yang berlaku di lingkungan kejaksaan agung. Apakah ada yang salah terhadap manusianya atau sistem peradilan nya kah?????

Atau diganti saja Para Jaksa Agung Muda tersebut dengan Pak Amin yang seorang supir taksi tersebut ????

Saya berpikir mungkin harus ada revolusi besar-besaran dan bukan lagi reformasi lagi di lingkungan Pemerintahan RI dari akar rumput sampat pucuk pohon, seperti apa yang dilakukan oleh pemerintahan China sehingga saat ini China bisa jauh lebih maju dan dan menjadi negara yang disegani di dunia.

mungkin ini adalah pelajaran bagi kita bahwa harus belajar mengasah hati nurani kita, artinya apabila berada pada lingkungan yang salah tetapi memiliki hati nurani yang kuat maka kita akan jauh lebih mendengar hati nurani dibanding lingkungan.

Semoga dilingkungan Pemerintahan Indonesia banyak memiliki Pak Amin-Pak Amin lain terutama para pejabatnya sehingga lebih banyak pejabat-pejabat atau para pegawainya yang memiliki hati nurani yang bersih sehingga Indonesia jauh lebih baik dan lebih maju.

Senin, 09 Juni 2008

Kisah Penjual Kue Rangi

Sering kita berbicara tentang etos kerja, kadang orang menyangkut pautkan dengan kerja keras. Namun dibalik hal tersebut ada suatu makna terdalam dari sebuah etos kerja adalah pengabdian yang hanya mengharapkan keridhoan Alloh SWT.
kisah ini sangat baik untuk kita renungkan agar kita mampu meredefinisi arti dari etos kerja
selamat membaca mudah-mudahan kita mampu mengambil hikmahnya.

Menjemput Rizki Setengah jam menjelang adzan Dzuhur, dari
kejauhan mata saya menangkap sosok tua dengan pikulan yang membebani pundaknya.
Dari bentuk yang dipikulnya, saya hapal betul apa yang dijajakannya, penganan
langka yang menjadi kegemaran saya di masa kecil. Segera saya hampiri dan
benarlah, yang dijajakannya adalah kue rangi, terbuat dari sagu dan kelapa yang
setelah dimasak dibumbui gula merah yang dikentalkan.
Nikmat, pasti.

Satu yang paling khas dari penganan ini selain bentuknya yang kecil-kecil dan
murah, kebanyakan penjualnya adalah mereka yang sudah berusia lanjut.
"Tiga puluh tahun lebih bapak jualan kue rangi," akunya kepada saya
yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraan bisa menemukan jajanan masa kecil
ini. Sebab, sudah sangat langka penjual kue rangi ini, kalau pun ada sangat
sedikit yang masih menggunakan pikulan dan pemanggang yang menggunakan bara
arang sebagai pemanasnya.

Tiga jam setengah berkeliling, akunya, baru saya lah yang menghentikannya untuk
membeli kuenya. "Kenapa bapak tidak mangkal saja agar tidak terlalu lelah
berkeliling, " iba saya sambil menaksir usianya yang sudah di atas angka
enam puluh. "Saya nggak pernah tahu dimana Allah menurunkan rezeki, jadi
saya nggak bisa menunggu di satu tempat. Dan rezeki itu memang bukan ditunggu,
harus dijemput. Karena rezeki nggak ada yang nganterin," jawabnya panjang.

Ini yang saya maksud dengan keuntungan dari obrolan-obrolan ringan yang bagi
sebagian orang tidak menganggap penting berbicara dengan penjual kue murah
seperti Pak Murad ini. Kadang dari mereka lah pelajaran-pelajaran penting bisa
didapat. Beruntung saya bisa berbincang dengannya dan karenanya ia mengeluarkan
petuah yang saya tidak memintanya, tapi itu sungguh penuh makna.

"Setiap langkah kita dalam mencari rezeki ada yang menghitungnya, dan jika
kita ikhlas dengan semua langkah yang kadang tak menghasilkan apa pun itu, cuma
ada dua kemungkinan. Kalau tidak Allah mempertemukan kita dengan rezeki di
depan sana, biarkan ia menjadi tabungan amal kita nanti," lagi sebaris kalimat
meluncur deras meski parau terdengar suaranya.

"Tapi kan bapak kan sudah tua untuk terus menerus memikul dagangan
ini?" pancing saya, agar keluar terus untaian hikmahnya. Benarlah, ia
memperlihatkan bekas hitam di pundaknya yang mengeras, "Pundak ini, juga
tapak kaki yang pecah-pecah ini akan menjadi saksi di akhirat kelak bahwa saya
tak pernah menyerah menjemput rezeki."

Sudah semestinya isteri dan anak-anak yang dihidupinya dengan berjualan kue
rangi berbangga memiliki lelaki penjemput rezeki seperti Pak Murad. Tidak semua
orang memiliki bekas dari sebuah pengorbanan menjalani kerasnya tantangan dalam
menjemput rezeki. Tidak semua orang harus melalui jalan panjang, panas terik,
deras hujan dan bahkan tajamnya kerikil untuk membuka harapan esok pagi. Tidak
semua orang harus teramat sering menggigit jari menghitung hasil yang kadang
tak sebanding dengan deras peluh yang berkali-kali dibasuhnya sepanjang jalan.
Dan Pak Murad termasuk bagian dari yang tidak semua orang itu, yang Allah
takkan salah menjumlah semua langkahnya, tak mungkin terlupa menampung setiap
tetes peluhnya dan kemudian mengumpulkannya sebagai tabungan amal kebaikan.

***

Sewaktu kecil saya sering membeli kue rangi, tidak hanya karena nikmat rasanya
melainkan juga harganya pun murah. Sekarang ditambah lagi, kue rangi tak
sekadar nikmat dan murah, tapi Pak Murad pedagangnya membuat kue rangi itu
semakin lezat dengan kata-kata hikmahnya. Lagi pula saya tak perlu membayar
untuk setiap petuahnya itu.